Sabtu, 15 Januari 2011

kepergiannya

setelah ku lewati satu malam tanpa terlelap, ku jaga, ku rawat, dan aku tunggui beliau. Impus, selang yang menjulur ke dalam rongga hidung, dadanya yang di tempel dengan berbagai selang, telah menggerayangi sekujur tubuhnya,  sampai akhirnya fajar menyingsing dan keadaanya semakin kritis.
ku tekan tombol pemanggil dokter, dan di saat itu pun sang dokter berusaha keras demi keselamatan beliau, Isak tangis dari mama dan kakak ku pun pecah, saat sang dokter berkata " terima dengan ikhlas ya bu,".
dengan air mata yang berlinang aku pun memeluk tubuhnya untuk yang terakhir kalinya, keikhlasan harus terjadi saat itu, walaupun sakit hati ini, dan sangat berat untuk di terima,

sirene ambulance, mengiringi kepulangan kami ke rumah,
gak kuat rasanya menjalani hidup hanya dengan 1 orang tua saja, tapi mau gimana lagi,?????semua memang sudah takdir tuhan, mungkin tuhan sayang dengan beliau

yasin, surat itu dibacakan semua orang saat kedatangan ambulance, tak ada keringnya air mata saat itu, semua orang pun memberi dorongan untuk tetap kuat dan sabar,

saat-saat yang paling dan lebih menyakitkan lagi adalah, saat dimasukkanya ke dalam liang lahad yng mempunyai kedalaman 1,5 m itu, saekan ingin berakhir hidup ku juga,

kini tak ada lagi yantg bisa ku panggil "papa"
kini tak ada lagi seorang yang "disegani"
kini tak ada lagi seorang yang sayangnya begitu dalam dan seluruh kasihnya hanya untuk ku
PA, aku sayang papa,,,,,,,,,,,

pa, diah nulis ini tuh dengan air mata yang berlinang tiada hentinya, kenapa papa ninggalin diiah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar